Raja Singasari Kertanegara (foto: dok ist)
KERTANEGARA, Raja Singasari itu mencoba mengetahui kekuatan gaib Kubilai Khan, yang berkuasa di Kekaisaran Mongol. Mengingat saat itu berkembang adanya kekuatan gaib yang dimiliki oleh Khubilai Khan, berdasarkan informasi dari Kerajaan Champa, yang bersekutu dengan Singasari.
Setelah ditelusuri konon Khubilai Khan melakukan ritual Budha tantrik, yaitu tantra kiri. Kertanagara pun yakin pihak Kerajaan Singasari perlu menempuh jalur kiri ini. Sebab cara inilah yang digunakan Kubilai Khan demi mendapatkan bantuan Dewi Kali yang dalam tahapannya kini menjelma sebagai Ibu suri Kegelapan.
Kertanagara berharap jika seluruh penghuni istana ini menempuh jalan tersebut demi tujuan-tujuan mulia. Mereka akan dapat mengembalikan sang dewi ke peranannya yang lain, yakni Ibu Suri Welasasih. Barulah mereka bisa yakin bahwa sang dewi akan melindungi anak-anaknya yang tak berdosa di Jawa dari para penyerang.
Tetapi menariknya aliran tantra kiri yang dianut oleh Kubilai Khan dikembangkan oleh Kertanagara. Ritual yang sama dengan pengembangan di Kerajaan Singasari juga terjadi di Kerajaan Champa, yang konon berbeda dengan versi Mongol, dikutip dari "Gayatri Rajapatni : Perempuan Dibalik Kejayaan Majapahit".
Konon versi adaptasi Champa dan Singhasari lebih terkendali, dengan melibatkan pasangan-pasangan laki-laki dan perempuan, serta minuman keras. Para peserta memakai topeng supaya identitas mereka tersamarkan.