Tesla Terancam Krisis, di Mana Elon Musk? (Foto: Reuters)
JAKARTA - Tesla kini menghadapi salah satu masa paling sulit dalam sejarahnya. Saham perusahaan kendaraan listrik ini mengalami kinerja buruk, penjualan global menurun, dan citra mereknya semakin terpecah. Namun, di tengah krisis ini, sosok yang paling bisa membalikkan keadaan justru dianggap tidak hadir: Elon Musk.
1. Saham Anjlok, Masalah Bertambah
Sejak awal tahun, Tesla menjadi salah satu saham dengan performa terburuk di indeks S&P 500. Tidak hanya itu, perusahaan juga menghadapi berbagai masalah lain:
Penjualan global menurun drastis, terutama di pasar utama seperti AS dan China.
Pasar penjualan kembali anjlok, yang mengindikasikan melemahnya permintaan.
Cyber Truck menghadapi penarikan kembali akibat cacat produksi, di mana panel eksteriornya dapat terlepas saat dikendarai. Tesla dikeluarkan dari Pameran Mobil Internasional Vancouver karena alasan keselamatan yang tidak dijelaskan lebih lanjut.
Hilangnya dana sekitar USD1,4 miliar setara dengan Rp23,273 triliun dari neraca perusahaan, menurut analisis Financial Times.
Namun, salah satu tantangan terbesar Tesla adalah perubahan identitas mereknya. Dulu, Tesla dikenal sebagai simbol inovasi dan keberlanjutan yang didukung oleh komunitas progresif. Kini, citranya berubah drastis dan lebih sering diasosiasikan dengan kelompok sayap kanan yang semakin otoriter.
2. Investor Kehilangan Kesabaran
Para investor, termasuk pendukung setia Tesla, mulai kehabisan kesabaran. Analis utama Tesla di Wall Street, Dan Ives dari Wedbush Securities, secara terbuka meminta Musk untuk bertindak.
"Tesla sedang mengalami krisis dan hanya ada satu orang yang bisa memperbaikinya: Musk. Tesla adalah Musk, dan Musk adalah Tesla. Keduanya tidak bisa dipisahkan," tulis Ives dalam catatannya kepada klien.
Namun, masalahnya adalah Musk tampaknya lebih sibuk dengan hal lain. "Musk menghabiskan 110% waktunya dengan DOGE (Departemen Efisiensi Pemerintah) dan bukan sebagai CEO Tesla," tambah Ives.
Ross Gerber, investor besar lainnya dari Gerber Kawasaki Wealth and Investment Management, bahkan menyatakan kepada CNN bahwa sudah waktunya bagi dewan Tesla untuk mempertimbangkan mencari CEO baru.
Tesla sendiri tidak memberikan komentar resmi terkait kritik yang semakin tajam ini.