5 Tradisi Unik Sepekan Setelah Lebaran Berbagai Daerah di Indonesia

11 hours ago 1

5 Tradisi Unik Sepekan Setelah Lebaran Berbagai Daerah di Indonesia

Tradisi Lopis Raksasa. (Foto: Ist/Okezone)

Indonesia memang istimewa dengan berbagai tradisi unik dari setiap daerah yang tentunya berbeda-beda. Beberapa daerah masih merayakan Idul Fitri sepekan setelah lebaran

Berikut tradisi unik sepekan setelah lebaran di berbagai daerah, dirangkum dari berbagai sumber.

1. Tradisi Masyarakat Jawa - Lebaran Ketupat

Jawa merupakan daerah yang identik dengan tradisi-tradisi unik dan sakralnya, salah satu tradisi yang mereka lakukan setelah sepekan Lebaran adalah Lebaran Ketupat. Tradisi ini dilakukan oleh umat muslim Jawa di bulan syawal atau satu minggu setelah Idul Fitri.

Lebaran Ketupat singkatan dari Ngaku Lepat atau bisa diartikan sebagai permintaan maaf, selain itu Ngaku Lepat dalam tradisi jawa juga bisa dikenal dengan sungkeman.

Ketupat memiliki simbol meminta maaf dan juga keberkahan, seperti yang kita ketahui bahwa bahan utama pembuatan ketupat adalah nasi dan daun kelapa muda. Nasi bisa disimbolkan sebagai menahan nafsu, sementara daun kelapa atau janur dilambangkan sebagai hati nurani. Melalui simbol tersebut manusia diharapkan mampu menahan nafsu dunia dengan hati nuraninya.

Selain itu, Ngaku Lepat juga bisa diartikan dengan empat tindakan yang istilahnya berasal dari lebaran, leburan, laburan, dan luberan. Lebaran artinya mengakhiri puasa, luberan mengartikan bahwa kita harus sedekah (zakat) atas kelimpahan yang sudah diberikan.

Sedangkan, leburan artinya habis atau lebur semua dosa-dosa kita dan terakhir aburan yang diambil dari kata benda labur atau kapur, benda berwarna putih yang disimbolkan sebagai kesucian. Jadi tradisi Lebaran Ketupat ini diartikan sebagai momen perayaan berakhirnya Idul Fitri atau bulan kemenangan.

2. Tradisi Masyarakat Lombok - Lebaran Topat

Kalau di Jawa disebut dengan Lebaran Ketupat, nah di Lombok disebut dengan Lebaran Topat. Tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Sasak, Lombok, biasanya dilaksankan satu pekan setelah perayaan Idul Fitri.

Biasanya, Lebaran Topat diawali dengan roah atau berdoa di masjid, lalu dilanjut dengan melangsungkan ziarah ke makam penyebar agama islam di Pulau Lombok dan diakhiri makan ketupat bersama.

Tradisi lebaran

Dalam bahasa Indonesia ‘’Topat” artinya ketupat. Tradisi ini biasanya disebut juga dengan lebaran kedua karena umumnya sebelum menjalankan tradisi Lebaran Topat masyarakat muslim akan berpuasa sunnah syawal selama 6 hari.

3. Tradisi Masyarakat Pekalongan - Lopis Raksasa

Tradisi masyarakat Pekalongan yang sudah mengalir secara turun temurun adalah Lopis Raksasa.

Tradisi Lopis Raksasa atau disebut juga dengan Lopisan merupakan tradisi khas masyarakat Kelurahan Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan yang biasanya digelar setiap hari kedelapan di bulan Syawal atau satu minggu setelah Idul Fitri. Ciri khas dari tradisi ini adalah ukurannya yang besar mencapai 2 meter dengan diameter 1,5 meter dan berat mencapai 225 Kg.

Tradisi Lopis Raksasa berkaitan dengan filosofi dari lopis itu sendiri. Lopis merupakan makanan berbahan dasar ketan khas Krapyak, ketan memiliki makna persatuan dan dalam bahasa Jawa disebut dengan kraket yang artinya erat.

Dalam hal ini, ketan yang sudah direbus pastinya memiliki daya rekat yang kuat dibanding dengan nasi yang berbahan dasar beras. Selain itu, makna yang terkandung didalamnya adalah sesama Muslim harus memiliki rasa saling peduli serta saling mengingatkan satu sama lain.

Beras ketan berwarna putih juga diartikan sebagai kesucian, lalu teruntuk bungkus lopis dari daun pisang memiliki makna perlambang Islam dan kemakmuran. Sedangkan ikatan atau tali pembungkus lopis yang terbuat dari serat pelepah pisang, menyimbolkan kekuatan.

Tradisi Lopis Raksasa ini memiliki pesan, sesuatu hal yang berhasil dicapai harus dijaga agar tidak luntur dan akan jauh lebih baik jika ditingkatkan, selain itu tujuan utama dari acara ini adalah untuk mempererat silaturahmi.

Read Entire Article
Desa Alam | | | |