Filosofi dan Makna di Balik Ketupat yang Identik dengan Hari Raya Idul Fitri

1 day ago 3

Naila Nazira , Jurnalis-Rabu, 02 April 2025 |06:22 WIB

Filosofi dan Makna di Balik Ketupat yang Identik dengan Hari Raya Idul Fitri

Filosofi dan Makna di Balik Ketupat pada Hari Raya Idul Fitri. (Foto: IG Yoyondarsono)

Ketupat merupakah salah satu hidangan khas yang tak pernah terlewatkan saat Idul Fitri tiba, tapi tahukah kamu tentang filosofi dan makna terkait ketupat pada hari raya lebaran?

Di balik anyaman daun kelapa dan bentuknya yang unik, ketupat ternyata menyimpan filosofi dan makna mendalam yang mencerminkan makna Idul Fitri bagi umat Muslim.

Dari simbolisasi kesucian hingga lambang kebersamaan, ketupat menjadi bagian tak terpisahkan dalam tradisi Lebaran di Indonesia.

Asal usul ketupat dimulai sejak masa hidup Sunan Kalijaga, yaitu pada abad ke-15 hingga 16. Sunan Kalijaga sendiri ialah seorang Wali Songo yang turut menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa.

Tak hanya itu lebaran ketupat dulunya dirayakan pada satu mingu setelah Idul Fitri, yakni 8 Syawal setelah melaksanakan puasa sunnah selama enam hari.

Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya dan filosofi dari pembauran antara Jawa dan nilai-nilai Islam. Ketupat bukan sekedar hidangan hari raya, namun memiliki makna filosofis seperti berikut ini.

1. Janur Kuning

Kebanyakan ketupat dibuat dengan janur kuning, walaupun sesekali ada juga yang membuat dengan daun kelapa yang sudah agak tua. Menurut cerita orang terdahulu janur kuning merupakan perlambangan balak, dengan demikian penggunaan janur kuning dalam membuat ketupat atau dalam hajatan dipercaya dapat memperoleh berkah dari Allah.

Sejarah Kenapa Selalu Ada Ketupat ketika Idul Fitri

2. Bentuk Empat Sudut

Ketupat dengan bentuk segi empat memiliki makna filosofis yang mendalam, yaitu melambangkan empat penjuru mata angin. Dahulu, bentuk ini menjadi ciri khas ketupat, namun kini variasi bentuknya semakin beragam.

Konsep segi empat tersebut juga menggambarkan filosofi ‘kiblat papat limo pancer’, yakni empat arah mata angin dengan satu pusat, yang mencerminkan keseimbangan alam. Dalam konteks religius, bentuk ini mengajarkan bahwa ke mana pun manusia melangkah, pada akhirnya tujuannya tetap satu, yaitu menuju Allah.

Read Entire Article
Desa Alam | | | |