Lawan Tarif Impor Trump, RI Wajib Mandiri Pangan dan Stop Impor

19 hours ago 3

Lawan Tarif Impor Trump, RI Wajib Mandiri Pangan dan Stop Impor

RI Wajib Mandiri Pangan untuk Lawan Tarif Impor. (Foto: Okezone.com/PUPR)

JAKARTA - Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi siap mendorong produksi pangan dalam negeri sebagai respons terhadap kebijakan tarif timbal balik Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. AS mengenakan tarif impor 32% kepada Indonesia dari basis tarif sebesar 10% yang diterapkan kepada semua negara.

1. Momentum RI Kurangi Impor Pangan

Arief menilai, kebijakan tarif yang diberlakukan beberapa negara, termasuk Amerika Serikat menjadi momentum Indonesia untuk lebih mandiri dalam produksi pangan dan mengurangi ketergantungan pada impor.

"Pada saat currency rate tinggi, harga pangan dunia tinggi, kemudian pemberlakuan tarif yang tinggi dari beberapa negara bukan cuma Donald Trump, ini waktunya kita meningkatkan produksi dalam negeri," kata Arief, pada Rapat Koordinasi dalam rangka Menjaga Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan Pasca-Idul Fitri 1446 Hijriah yang diselenggarakan Bapanas secara daring, dikutip dari Antara, di Jakarta, Jumat (4/4/2025). 

Saat ditanyai kebijakan Presiden AS Donald Trump yang mengenakan tarif dasar dan bea masuk baru kepada banyak mitra dagang, termasuk Indonesia yang terkena tarif timbal balik sebesar 32%. 

Arief menekankan pentingnya meningkatkan cadangan pangan pemerintah, yang bisa digunakan untuk menjaga kestabilan harga pangan di pasar, terutama di daerah-daerah dengan kebutuhan lebih tinggi. 

"Kemudian yang berikutnya meningkatkan cadangan pangan pemerintah (CPP). Bolak-balik saya selalu sampaikan cadangan pangan pemerintah. Ini saya nggak bosan mengulang-ulang," ujar Arief.

2. Ayo Beli Produk Lokal

Salah satu upaya yang dilakukan adalah membeli produk pangan dengan harga yang kompetitif dan menyimpannya dalam kondisi beku di cold storage, untuk digunakan saat harga pangan melonjak tinggi.

"Misalnya tadi pada saat karkas, live bird harganya rendah, dibeli tetap dengan harga yang bagus, kemudian digunakan airbrush freezer, simpan dalam cold storage, frozen condition," ujarnya lagi.

Menurut Arief, dengan langkah itu, maka produk unggas tersebut bisa dilakukan penjualan untuk intervensi ke berbagai daerah yang harganya tinggi, misalnya Indonesia bagian timur.

"Atau beberapa daerah yang memang memerlukan. Jadi harga bisa tetap stabil," kata Arief pula.

Kendati demikian, dia menyebutkan bahwa saat ini Bapanas sedang fokus mencari teknologi yang dapat memperpanjang masa simpan produk pangan, sehingga dapat menghindari kerugian akibat penurunan kualitas saat distribusi.

"PR kita berikutnya adalah mencari teknologi untuk bisa memperpanjang safe life," ujar Arief.

Read Entire Article
Desa Alam | | | |