Mengapa Shalat Tarawih 4 Rakaat Tak Pakai Tasyahud Awal? Ini Penjelasan dan Dalilnya

9 hours ago 3

Mengapa Shalat Tarawih 4 Rakaat Tak Pakai Tasyahud Awal? Ini Penjelasan dan Dalilnya

Ilustrasi.

JAKARTA – Sholat tarawih adalah ibadah sunnah yang dikerjakan di bulan Ramadhan baik di masjid maupun di rumah, berjamaah ataupun sendirian. Ada berbabagi ragam pelaksanaan sholat tarawih, mulai dari 10 rakaat seperti yang dijalankan di masjidil haram hingga 36 rakaat di beberapa masjid di Indonesia.

Di antara tata cara sholat tarawih tersebut terdapat praktik 11 rakaat dengan pola 4-4-3, yang terdiri dari 2 kali sholat tarawih 4 rakaat ditutup dengan 3 rakaat sholat witir, yang banyak digunakan oleh pengikut Muhammadiyah. Pola 4-4-3 ini mendapat kritik karena dilakukan tanpa tasyahud awal, sehingga dianggap sebagai ibadah tanpa dalil.

Terkait dugaan tersebut, berikut penjelasan Muhammadiyah tentang dalil sholat tarawih 4 rakaat tanpa tasyahud awal, sebagaimana dilansir dari laman resmi Muhammadiyah.

Tasyahud Awal dalam sholat Tarawih 4 Rakaat, Adakah Dalilnya?

Perdebatan masyarakat atas pemakaian tasyahud awal dalam sholat tarawih 4-4-3 sesungguhnya berpangkal dari sebuah hadis yang diriwayatkan ‘Aisyah

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- يَسْتَفْتِحُ الصَّلاَةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) وَكَانَ إِذَا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُصَوِّبْهُ وَلَكِنْ بَيْنَ ذَلِكَ وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِىَ قَائِمًا وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السَّجْدَةِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِىَ جَالِسًا وَكَانَ يَقُولُ فِى كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ الشَّيْطَانِ وَيَنْهَى أَنْ يَفْتَرِشَ الرَّجُلُ ذِرَاعَيْهِ افْتِرَاشَ السَّبُعِ وَكَانَ يَخْتِمُ الصَّلاَةَ بِالتَّسْلِيمِ

Artinya: Dari Aisyah ia berkata: adalah Rasulullah saw memulai sholatnya dengan takbir dan membaca alhamdulillahi rabbil ‘ālamiin. Jika rukuk beliau tidak menaikkan kepala (terlalu tinggi) atau menurunkan kepala (terlalu rendah), tetapi pertengahan di antara itu. Jika mengangkat kepala dari rukuk, beliau tidak bersegera sujud sampai tegak berdiri. Jika mengangkat kepala dari sujud, beliau tidak bersujud sampai tegak dalam posisi duduk. Beliau membaca tahiyyat pada setiap dua rakaat. Beliau membentangkan kaki kiri dan menegakkan (telapak) kaki kanan. Beliau melarang dari duduknya Syaithan dan melarang seseorang menghamparkan tangannya (dalam sujud sholat) seperti binatang buas menghamparkan tangannya. Beliau menutup sholat dengan salam.

Read Entire Article
Desa Alam | | | |