Tangguh Yudha
, Jurnalis-Rabu, 04 Februari 2026 |19:29 WIB

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai perekonomian Indonesia masih berada pada jalur positif di tengah tingginya ketidakpastian global. (Foto :Okezone.com/Bea Cukai)
JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai perekonomian Indonesia masih berada pada jalur positif di tengah tingginya ketidakpastian global. Kinerja ekonomi nasional dinilai relatif lebih baik dibandingkan sejumlah negara lainnya.
“Dalam konteks global, posisi Indonesia lebih baik dari banyak negara. Pada kuartal III tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di 5,04 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan banyak negara,” katanya usai Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR, Rabu (4/2/2026).
Menurut Purbaya, capaian tersebut menunjukkan mesin pertumbuhan ekonomi nasional masih solid. Konsumsi rumah tangga, investasi, serta transformasi industri dinilai tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Ia menambahkan, di tengah kondisi global yang diwarnai ketidakpastian, Indonesia tetap dipersepsikan positif sebagai negara emerging economy dengan kombinasi pertumbuhan yang tinggi, stabilitas harga yang terjaga, serta risiko ekonomi yang relatif terkendali.
“Dengan situasi global yang mulai lebih bersahabat dari sisi suku bunga dan posisi relatif Indonesia yang semakin kuat dalam global supply chain, kita berada pada jalur yang tepat untuk menjaga momentum ekspansi ekonomi yang berkelanjutan, tentunya dengan tetap waspada terhadap berbagai risiko yang kita hadapi,” tegasnya.
Purbaya juga menilai situasi global mulai menunjukkan perbaikan, khususnya dari sisi kebijakan suku bunga. Dengan arah suku bunga global yang cenderung lebih akomodatif serta posisi Indonesia yang semakin kuat dalam rantai pasok global, ia optimistis momentum pertumbuhan ekonomi dapat terus dijaga.
Namun demikian, Purbaya mengingatkan bahwa ruang akselerasi pertumbuhan global pada 2026 masih terbatas meskipun tetap berada dalam fase pertumbuhan positif. Ketidakpastian global masih dipicu oleh dinamika geopolitik, persaingan sumber daya strategis, perbedaan kebijakan moneter antarnegara, keterbatasan fiskal, risiko perubahan iklim, serta disrupsi dan peluang dari adopsi kecerdasan buatan (AI) dan teknologi.

















































