Saling Serang Tarif Dagang, Siapa yang Diuntungkan? (Foto: Okezone.com/Freepik)
JAKARTA - Perang dagang semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi menetapkan tarif dagang 10% untuk semua barang impor ke AS. Trump juga memberlakukan tarif timbal balik terhadap sejumlah negara.
Melansir BBC Indonesia, Kamis (3/4/2025), ada beberapa tarif yang sudah ditetapkan dan siap diberlakukan di AS, di antaranya tarif untuk suku cadang mobil mulai berlaku pada Mei.
Adapun AS mengimpor sekitar delapan juta mobil per tahun, dengan nilai USD240 miliar.
AS mengenakan tarif sebesar 25% untuk barang dari Kanada dan Meksiko pada 4 Maret, dengan tarif sebesar 10% untuk impor energi dari Kanada.
Namun, kendaraan bermotor dan suku cadang kendaraan bermotor yang dibuat sesuai dengan perjanjian perdagangan bebas AS-Meksiko-Kanada (USMCA) dikecualikan dari pengenaan tarif ini, hingga pejabat bea cukai AS merancang sistem untuk mengenakan bea masuk.
Gedung Putih mengatakan tarif terhadap Kanada dan Meksiko dimaksudkan untuk membujuk pemerintah mereka agar menghentikan migran ilegal dan fentanil (obat opioid yang dibuat secara ilegal) ke AS.
Sebelumnya, pada 4 Februari, AS mengenakan tarif menyeluruh sebesar 10% terhadap barang-barang dari China, yang kemudian dinaikkan menjadi 20% pada 4 Maret.
Kendati begitu, impor barang dengan nilai kurang dari USD800 dikecualikan.
Perang Dagang Dimulai
China merespons kebijakan tarif Trump dengan mengenakan pajak 10-15% atas barang-barang dari AS seperti produk pertanian.
Sementara itu, Kanada telah membalas dengan mengenakan tarif atas impor AS senilai lebih dari USD40 miliar.
Adapun Meksiko menunda penerapan tarif balasan.
Pada 12 Maret silam, AS memperkenalkan pengenaan tarif sebesar 25% terhadap impor baja dan alumunium dari semua negara di seluruh dunia.
Pengenaan tarif ini secara khusus berdampak pada Kanada, Brazil, Meksiko, Korea Selatan, Vietnam dan Jepang, yang merupakan eksportir logam terbesar ke AS.
Uni Eropa kemudian membalas dengan mengenakan tarif pada barang-barang AS senilai USD28 miliar mulai 1 April, termasuk kapal, wiski bourbon, dan sepeda motor.