
Pembalap Tim Ducati Lenovo, Marc Marquez. (Foto: Instagram/ducaticorse)
MANTAN bos tim Formula 1 (F1) Haas, Guenther Steiner, resmi menyeberang ke lintasan roda dua mulai 1 Januari 2026. Kini menjabat sebagai CEO sekaligus pemilik bersama tim Tech3, Steiner mengungkapkan alasan kuat di balik keputusannya terjun ke MotoGP.
Bagi Steiner, daya tarik utama olahraga ini terletak pada pertarungan jarak dekat dan dominasi talenta pembalap yang jauh lebih menonjol dibandingkan di balap jet darat. Hal itulah yang membuat Steiner tertarik dengan MotoGP.
"Di MotoGP, peran pembalap jauh lebih krusial dibandingkan pengemudi di Formula 1," ujar Steiner, dilansir dari Crash, Kamis (7/1/2026).
Steiner mengaku terpukau dengan aksi man-to-man di atas motor yang ia sebut sebagai monster teknologi. Meski sudah lama mengagumi MotoGP, Steiner baru mendapatkan kesempatan emas untuk terlibat langsung pada musim ini.
1. Rencana Jangka Panjang
Steiner tidak datang untuk melakukan revolusi instan. Ia sangat menghormati struktur Tech3 sebagai tim swasta tertua di MotoGP dan tetap menggandeng sang pendiri, Herve Poncharal, sebagai konsultan.
Marc Marquez. (instagram/ducaticorse)
Bersama kepala tim baru, Richard Coleman, Steiner berkomitmen untuk belajar terlebih dahulu sebelum menerapkan perubahan besar berdasarkan pengalaman 40 tahunnya di dunia motorsport. Steiner memprediksi butuh waktu sekitar tiga hingga lima tahun untuk benar-benar membangun fondasi tim yang solid.
Steiner juga menyoroti kesuksesan Jorge Martin pada 2024 sebagai bukti bahwa tim independen memiliki peluang nyata untuk menjadi juara dunia. Hal ini menjadi motivasi tambahan baginya untuk membawa Tech3 kembali ke jalur kemenangan seperti saat berjaya bersama Miguel Oliveira, Maverick Vinales, dan Enea Bastianini di masa lalu.

















































