Bisikan Gaib
JAKARTA - Dalam perbincangan lanjutan bersama Ki Reman, Bang Robby mengajak penonton memahami praktik pelet dan teluh dari sudut pandang yang lebih edukatif. Ki Reman menjelaskan bahwa kedua ilmu tersebut kerap disalahpahami oleh masyarakat.
Pelet tidak selalu bermakna menyakiti, melainkan lebih sering digunakan untuk memengaruhi perasaan dan kedekatan emosional, sementara teluh umumnya diarahkan untuk melemahkan kondisi fisik maupun mental target secara gaib.
Ki Reman menekankan bahwa pengaruh pelet bekerja sangat halus karena menyasar alam bawah sadar. Seseorang yang terkena pelet biasanya tidak menyadari perubahan dalam dirinya. Tanda-tandanya bisa berupa pikiran yang terus tertuju pada satu orang, dorongan kuat untuk bertemu tanpa alasan jelas, hingga kesulitan mendengarkan nasihat dari keluarga atau orang terdekat. Inilah yang membuat pelet kerap dianggap berbahaya, karena efeknya tidak langsung terasa secara kasat mata.
Pembahasan kemudian berlanjut pada teluh dan santet yang memiliki karakter berbeda. Menurut Ki Reman, teluh lebih bersifat merusak dan sering kali dipicu oleh emosi negatif seperti dendam dan iri hati.
Gejala awalnya dapat menyerupai gangguan medis biasa, namun disertai dengan tekanan batin dan mimpi berulang yang tidak wajar. Karena kemiripan gejala ini, banyak korban terlambat menyadari bahwa dirinya sedang mengalami serangan nonfisik.
Selain membahas bentuk serangan, Ki Reman juga mengulas berbagai metode spiritual yang biasa digunakan dalam ritual, seperti puasa mutih, pati geni, hingga ngerowot. Metode-metode ini bertujuan untuk memperkuat energi batin dan fokus spiritual seseorang. Namun, ia menegaskan bahwa praktik tersebut tidak bisa dilakukan sembarangan karena membutuhkan pemahaman, disiplin, dan kesiapan mental yang matang.















































