Doomscrolling dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental

4 hours ago 1

<i>Doomscrolling</i> dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental

{Doomscrolling} dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental. (Foto: Freepik)

AKARTA - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, mengakses berita melalui ponsel dan media sosial telah menjadi kebiasaan umum. Data terbaru menunjukkan bahwa penggunaan media sosial di Indonesia sangat tinggi. 

Indonesia termasuk empat negara dengan pengguna media sosial terbanyak di dunia. Kelompok yang paling aktif adalah Generasi Z, yang sebagian besar menghabiskan waktu antara 1 hingga 6 jam per hari di media sosial. 

Bahkan, sebagian kecil dari mereka, sekitar 5%, menghabiskan waktu hingga 10 jam sehari. Dalam hal platform, Instagram menjadi pilihan utama, disusul oleh TikTok, X, dan Facebook. 

Namun, tanpa disadari, kebiasaan ini dapat berkembang menjadi doomscrolling, yaitu perilaku terus-menerus mengakses berita atau konten bernada negatif, seperti berita krisis, bencana, konflik, atau ancaman, meskipun hal tersebut membuat kita merasa cemas atau tertekan (Satici et al., 2023). 

Istilah doomscrolling semakin sering digunakan dalam kajian psikologi karena perilaku ini dapat memberi dampak serius bagi kesehatan mental.

Mengapa doomscrolling mudah terjadi?

Secara psikologis, doomscrolling sering muncul saat seseorang merasa tidak pasti dan ingin mencari rasa aman melalui informasi. Ironisnya, penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak berita negatif yang dikonsumsi, semakin tinggi pula tingkat stres dan kecemasan yang dirasakan (Shabahang et al., 2024). 

Alih-alih merasa lebih siap atau terkendali, otak justru tetap berada dalam kondisi “siaga”, sehingga mendorong kita untuk terus mencari pembaruan. 
Platform media sosial dengan fitur infinite scroll memperkuat pola ini, karena tidak ada batas alami yang memberi sinyal kapan harus berhenti.

Dampak doomscrolling terhadap kesehatan mental
Berbagai studi menunjukkan bahwa doomscrolling berhubungan dengan meningkatnya kecemasan, afek negatif, dan penurunan kesejahteraan psikologis. 
Satici et al. (2022) menemukan bahwa individu dengan tingkat doomscrolling tinggi cenderung mengalami stres dan penggunaan media sosial yang lebih bermasalah.

Penelitian lintas budaya oleh Shabahang et al. (2024) juga menunjukkan bahwa doomscrolling berkaitan dengan existential anxiety, yaitu kecemasan mendalam tentang masa depan, makna hidup, dan ketidakpastian dunia. 

Selain itu, laporan dari American Psychological Association (Huff, 2022) menegaskan bahwa paparan berita negatif yang berlebihan dapat memicu news-related stress dan kelelahan mental.

Siapa yang lebih berisiko melakukan doomscrolling?

Meskipun dapat dialami siapa saja, doomscrolling lebih sering terjadi pada individu yang:
memiliki tingkat kecemasan tinggi,
takut tertinggal informasi (fear of missing out / FOMO), menggunakan media sosial secara pasif (hanya membaca tanpa interaksi), atau
memiliki kesulitan dalam mengatur emosi (Güme, 2024).

Read Entire Article
Desa Alam | | | |