Awaludin
, Jurnalis-Jum'at, 09 Januari 2026 |06:31 WIB

Demo di Taheran (foto: tangkapan layar medsos)
TEHERAN - Aksi protes jalanan meletus di Teheran, Iran, seiring meluasnya gelombang unjuk rasa anti-pemerintah di berbagai wilayah negara tersebut, pada Kamis, 8 Januari 2026.
Ribuan warga turun ke jalan meluapkan kemarahan atas kondisi ekonomi yang memburuk dan tindakan keras aparat keamanan.
Para demonstran berbaris di sejumlah ruas jalan ibu kota sambil meneriakkan slogan-slogan menentang rezim teokratis yang berkuasa. Aksi ini dipicu oleh inflasi tinggi, melemahnya mata uang rial, serta melonjaknya harga kebutuhan pokok yang semakin menekan kehidupan masyarakat.
Tak lama setelah protes dimulai, pihak berwenang Iran memutus akses internet dan jaringan telepon di sejumlah wilayah. Organisasi pengawas internet menilai langkah tersebut sebagai indikasi awal kemungkinan tindakan represif yang lebih keras, meski pemadaman tidak sepenuhnya menghentikan penyebaran video protes di media sosial.
Sebagian pengunjuk rasa diduga merespons seruan Putra Mahkota Iran yang diasingkan, Reza Pahlavi, untuk turun ke jalan. Dalam sejumlah video yang diverifikasi CNN, terdengar massa meneriakkan slogan, “Ini adalah pertempuran terakhir, Pahlavi akan kembali.”
Pahlavi sendiri menyampaikan dukungan melalui akun X miliknya. Ia mendesak warga Iran untuk turun ke jalan dan bersatu menyuarakan tuntutan mereka.
“Turunlah ke jalan dan, sebagai satu kesatuan, teriakkan tuntutan Anda. Bangkitlah Iran!” tulis Pahlavi, seperti dilansir dari CNN, Jumat (9/1/2026).

















































