
Ilustrasi. (Foto: Freepik)
JAKARTA – Isu poligami kerap mengundang kontroversi di kalangan masyarakat Indonesia, meski dibenarkan secara hukum Islam. Isu ini menjadi lebih pelik apabila poligami dilakukan tanpa sepengetahuan istri pertama.
Banyak yang ragu apakah poligami yang dilakukan tanpa sepengetahuan atau persetujuan istri pertama sah atau tidak menurut Islam. Berikut penjelasannya mengenai fikih, sebagaimana dilansir dari NU Online.
Dalam kajian fikih, poligami boleh dilakukan oleh seorang suami bila memenuhi dua syarat. Pertama, harus mampu berbuat adil di antara istri-istrinya. Kedua, mampu menafkahi.
Sebagaimana disinggung oleh Syeikh Wahbah Az-Zuhaili dalam buku Fiqhul Islami:
قُيُوْدُ إِبَاحَةِ التَّعَدُّدِ : اشْتَرَطَتِ الشَّرِيْعَةُ لِإِبَاحَةِ التَّعَدُّدِ شَرْطَيْنِ جَوْهَرِيَّيْنِ هُمَا 1 - تَوْفِيْرُ الْعَدْلِ بَيْنَ الزَّوْجَاتِ 2 - اْلقُدْرَةُ عَلىَ الْإِنْفاَقِ
Artinya: “Syariat mensyaratkan dua hal penting bagi seorang suami bila ingin berpoligami. Pertama, bisa berlaku adil kepada istri-istrinya. Kedua, mampu menafkahi.” (9/6669–6670)















































