Anggie Ariesta
, Jurnalis-Kamis, 08 Januari 2026 |14:53 WIB

Menkeu Purbaya (Foto: Okezone)
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan laporan realisasi sementara APBN Tahun Anggaran 2025 dalam konferensi pers APBN KiTa, Kamis (8/1/2026).
Poin utama yang menjadi sorotan adalah angka defisit anggaran yang membengkak menjadi 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), mendekati ambang batas legal 3 persen.
Meskipun rencana awal defisit dipatok pada angka 2,53 persen, Menkeu menegaskan bahwa kenaikan ini adalah langkah disengaja untuk memberikan stimulus di tengah tekanan ekonomi global dan domestik.
"Defisitnya memang naik ke 2,92 persen dari rencana awal 2,53 persen. Ini tadi dengan misi untuk menjaga ekonomi tetap bisa berekspansi di tengah tekanan global yang tinggi," tegas Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTa edisi Januari 2026, Kamis (8/1/2026).
Purbaya menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan wujud nyata dari strategi counter-cyclical.
Menurutnya, pemerintah bisa saja memotong belanja untuk menekan defisit, namun hal tersebut akan mengorbankan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
"Kita pastikan di bawah 3 persen ini adalah standar yang paling ketat. Jadi kita mengacu ke sana terus walaupun keadaan agak menekan kita," tambahnya.
Realisasi pendapatan negara tercatat mencapai Rp2.756,3 triliun atau hanya 91,7 persen dari target APBN. Hal ini dipicu oleh penerimaan perpajakan yang tidak mencapai target akibat perlambatan ekonomi seperti Penerimaan Pajak tembus Rp1.917,6 triliun atau 87,6 persen dari target.
















































