
Soroti Ibu dan Bayi Meninggal Setelah Ditolak 4 RS, Wasekjen Perindo: Evaluasi Sistem Layanan Maternal! (Dok Perindo)
JAKARTA - Partai Perindo menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Irene Sokoy dan bayi yang dikandungnya, setelah diduga 4 kali ditolak layanan medis dari rumah sakit di Jayapura, Papua. Peristiwa memilukan ini bukan sekadar masalah prosedural, melainkan potret nyata rapuhnya sistem kesehatan maternal di Indonesia.
1. Evaluasi Sistem Layanan Maternal!
Kematian Irene terjadi di wilayah yang tercatat memiliki angka kematian ibu dan bayi tertinggi di Indonesia. Papua memiliki angka kematian ibu (AKI) 565 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi (AKB) 38,17 per 1.000 kelahiran hidup (BPS 2020). Data bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 itu menegaskan, tragedi yang dialami Irene bukanlah insiden terpisah, melainkan bagian dari krisis sistemik yang tak pernah benar-benar ditangani dengan serius.
Hasil investigasi awal Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Irene tercatat sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Namun, status tersebut tidak mampu membuka pintu rumah sakit ketika nyawanya membutuhkan pertolongan segera.
Bahkan dengan kepesertaan resmi program kesehatan nasional, ia tetap ditolak dengan alasan kamar penuh, ketiadaan dokter spesialis, hingga renovasi fasilitas. Ketika pintu rumah sakit tertutup bagi pasien gawat darurat maka negara telah gagal menjalankan kewajiban konstitusionalnya.
“Penolakan terhadap Irene adalah luka bagi kita semua. Dua nyawa hilang bukan karena ketiadaan teknologi, tetapi karena sistem pelayanan kesehatan membiarkan seorang ibu menunggu di depan pintu rumah sakit hingga napas terakhirnya,” kata Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Perindo, Sri Gusni, dalam keterangannya, Minggu (30/11/2025).
Ia menegaskan, negara tidak boleh berhenti pada ungkapan keprihatinan. Tragedi ini harus menjadi alarm terakhir bahwa sistem rujukan dan layanan maternal di Indonesia membutuhkan perbaikan menyeluruh.
“Kematian Irene Sokoy harus menjadi momen peringatan terakhir. Kita tidak boleh lagi membiarkan ibu dan bayi meninggal hanya karena sistem kesehatan kita rapuh dan tidak siap. Negara wajib hadir bukan hadir sebagai slogan, tetapi hadir sebagai penyelamat nyawa rakyatnya,” tutur Sri Gusni.
















































