
Viral Warga Antre Ambil Air Sinkhole Situjuah, Pakar Ungkap Hal yang Sebenarnya. (Foto: UGM)
JAKARTA - Viral di media sosial, warga berbondong-bondong mengambil air dari sinkhole di kawasan persawahan Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Air itu pun dipercaya oleh warga setempat bisa memberikan manfaat. Walhasil warga pun mengantre untuk mendapatkan air dari dalam sinkhole.
Sinkhole termasuk dalam bencana geologi. Sinkhole merupakan fenomena lubang amblas, seperti piring yang terbentuk akibat runtuhnya atau terkikisnya lapisan batuan di bawahnya yang digunakan untuk menyangga material di permukaan
Dosen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM, Prof. Dr. Eng. Ir. Wahyu Wilopo S.T., M.Eng., IPM., menuturkan fenomena ini terjadi akibat kombinasi faktor geologi seperti pelarutan batu gamping, erosi material lapuk, dan curah hujan tinggi.
Terlebih, ia menyebutkan siklon Senyar yang terjadi di akhir bulan November 2025 lalu memicu curah hujan melimpah. Menurutnya, daerah Sumatera Barat terdiri dari beberapa satuan batuan salah satunya gamping dan adanya siklon Senyar yang bisa memicu terjadinya sinkhole.
"Pencegahan total sulit dilakukan, tetapi mitigasi dapat melalui pemantauan geologi, pengendalian tata guna lahan, serta sistem drainase yang baik,” ujarnya seperti dikutip dari laman UGM, Senin (12/1/2026).
Wahyu menyebutkan fenomena ini tidak bisa muncul di semua jenis tanah. Melainkan lebih sering terjadi di wilayah geologi tertentu seperti karst (batu gamping/kapur), tanah berongga, atau wilayah dengan aktivitas manusia yang mempercepat pelarutan dan erosi.
Ia menyebutkan di kawasan karst, air hujan bisa melarutkan batuan yang membentuk rongga bawah tanah. Sedangkan di tanah berongga, jelas Wahyu, dapat diakibatkan oleh gua alami maupun kegiatan tambang. Ia menambahkan wilayah dengan material vulkanik lapuk mengakibatkan mudah erosi hingga rentan ambles.
“Ada pula yang terjadi ini dapat karena daerah eksploitasi air tanah berlebihan sehingga menurunkan muka air tanah, memperbesar rongga, dan melemahnya struktur tanah hingga sinkhole,” runtutnya.
Selain mengubah topografi yang awalnya kawasan pertanian, lubang misterius ini dapat berdampak pada rusaknya ekosistem flora fauna sekitar.
Menurutnya, fenomena ini juga tidak memungkiri limbah maupun material berbahaya masuk dan mencemari air melalui sungai bawah tanah. Rongga yang terbentuk memperbesar juga berisiko adanya amblesan lanjutan di sekitar lokasi.
Karakter sinkhole yang dapat muncul tanpa peringatan, Wahyu menyebutkan risiko mengancam keselamatan jiwa. Selain itu, rusaknya infrastruktur turut mengganggu aktivitas dan siklus ekonomi lokal.
“Ini juga memunculkan rasa cemas dan trauma bagi masyarakat yang terdampak,” ungkapnya.














































