Feby Novalius
, Jurnalis-Selasa, 20 Januari 2026 |14:03 WIB

Insentif EV tidak hanya mendorong permintaan, tetapi juga berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja, percepatan investasi. (Foto: Okezone.com/Freepik)
JAKARTA – Wacana penghentian insentif kendaraan listrik dinilai berisiko memperlambat transisi energi nasional dan justru menambah tekanan terhadap keuangan negara, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Momentum pertumbuhan kendaraan listrik yang mulai terbentuk dikhawatirkan terhenti, sehingga ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) kembali meningkat.
“Penggunaan kendaraan listrik di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan positif. Bahkan, selama periode libur Natal dan Tahun Baru 2026 tercatat 234.136 transaksi pengisian daya dengan total konsumsi listrik mencapai 5.619 megawatt hour (MWh). Hal ini mencerminkan meningkatnya peralihan energi transportasi ke sumber yang lebih bersih. Namun, saat ini pasar EV nasional berada pada fase krusial,” ujar Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development Indef, Abra Talattov, Selasa (20/1/2026).
Menurutnya, momentum pertumbuhan EV yang telah terbentuk perlu dijaga agar Indonesia tidak kembali memperdalam ketergantungan pada energi fosil.
“EV memiliki peran strategis untuk mengurangi konsumsi energi fosil. Jika momentumnya terhenti, tekanan terhadap subsidi energi justru bisa semakin besar,” ujar Abra.
Sepanjang tahun lalu, penjualan mobil listrik secara wholesales mencapai 103.931 unit, melonjak sekitar 141 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut setara dengan hampir 13 persen pangsa pasar otomotif nasional, yang menandakan adopsi EV semakin diterima masyarakat.
Menurutnya, pengembangan EV tidak semata-mata soal penjualan, tetapi juga mencakup penguatan industri otomotif, hilirisasi nikel dan baterai, perluasan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), serta keandalan pasokan listrik.
Di sisi lain, tekanan eksternal turut membayangi. Ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan berisiko memicu lonjakan harga minyak dunia yang dapat berdampak langsung pada kenaikan harga BBM domestik serta pembengkakan subsidi energi.
“Dalam situasi global yang tidak menentu, Indonesia perlu mengambil langkah antisipatif untuk melindungi APBN. Mendorong kendaraan listrik menjadi salah satu instrumen strategis,” katanya.













































