PANGKEP SULSEL - Memanfaatkan daun-daunan yang ada di pinggiran hutan maupun di sekitar kampung sebagai pupuk merupakan langkah strategis untuk mencapai kemandirian pertanian. Selama ini, petani sering bergantung pada pupuk kimia yang harganya fluktuatif dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Dengan mengolah daun-daunan menjadi kompos, petani tidak hanya menghemat biaya produksi, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada produk pabrikan. Langkah ini sangat relevan terutama untuk padi dan tanaman kebun yang memerlukan pasokan hara secara rutin.
Daun-daunan adalah sumber bahan organik yang melimpah dan terbarukan. Jika dibiarkan membusuk begitu saja, daun akan tetap terurai, namun manfaatnya sering hilang karena hanyut terbawa air hujan atau terbakar. Padahal, daun mengandung unsur hara penting seperti nitrogen, fosfor, dan kalium yang dibutuhkan oleh tanaman. Dengan mengolahnya menjadi kompos, semua unsur tersebut bisa dimanfaatkan kembali untuk memperbaiki kesuburan tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman secara alami.
Bagi petani padi, penggunaan kompos daun sangat membantu menjaga keseimbangan ekosistem tanah. Tanah yang terus-menerus diberi pupuk kimia cenderung kehilangan unsur organik dan menjadi keras. Sebaliknya, kompos daun memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kemampuan menahan air, dan mendukung kehidupan mikroba tanah. Hasilnya, padi bisa tumbuh lebih sehat dengan risiko serangan hama dan penyakit yang lebih rendah.
Untuk tanaman kebun seperti sayuran, buah-buahan, atau tanaman rempah, kompos daun dapat memberikan nutrisi jangka panjang. Pupuk organik dari daun terurai secara perlahan, sehingga unsur hara dilepaskan sedikit demi sedikit sesuai kebutuhan tanaman. Hal ini membuat pertumbuhan tanaman lebih stabil dan hasil panen lebih berkualitas, baik dari segi rasa maupun daya simpan. Selain itu, penggunaan kompos daun membantu menjaga kelembapan tanah, sehingga tanaman tidak cepat layu meski cuaca panas.
Pemanfaatan daun-daunan sebagai kompos juga berdampak positif bagi lingkungan. Pembakaran daun, yang masih sering dilakukan di desa, menghasilkan polusi udara dan membunuh organisme tanah yang bermanfaat. Dengan mengomposkan daun, kita justru mengembalikan bahan organik ke tanah dan mengurangi limbah organik yang terbuang sia-sia. Ini adalah bentuk pertanian ramah lingkungan yang mendukung keberlanjutan sumber daya alam.
Selain manfaat ekonomi dan lingkungan, kegiatan mengolah daun menjadi pupuk juga bisa menjadi sarana pemberdayaan masyarakat. Warga bisa bergotong royong mengumpulkan daun di hutan atau di tepi jalan, kemudian mengolahnya bersama-sama. Hasilnya dapat digunakan untuk lahan pertanian kolektif atau dibagi ke masing-masing rumah tangga tani. Bahkan, jika produksinya berlebih, kompos daun bisa dijual sebagai produk pupuk organik yang bernilai ekonomis.
Dengan segala manfaat tersebut, sudah saatnya kita memandang daun-daunan di sekitar bukan sebagai sampah, tetapi sebagai sumber daya berharga. Padi, sayuran, buah, dan berbagai tanaman kebun dapat tumbuh subur tanpa harus mengandalkan pupuk pabrikan yang mahal. Mengolah daun menjadi kompos adalah langkah sederhana namun berdampak besar, baik bagi keberlanjutan pertanian maupun bagi kesejahteraan petani. Inilah wujud kemandirian pangan yang dimulai dari kesadaran memanfaatkan apa yang sudah tersedia di alam sekitar.
Daun-daunan di pinggir hutan atau kampung bisa jadi sumber pupuk organik yang murah bahkan gratis, asalkan dikelola dengan benar.
Kalau diolah dengan baik, bukan cuma bisa menggantikan pupuk kimia, tapi juga memperbaiki kualitas tanah dalam jangka panjang.
Berikut langkah dan tipsnya:
1. Pilih Bahan yang Tepat
Gunakan daun-daunan kering dan basah yang jatuh alami (bukan yang disemprot pestisida).
Campur daun hijau (kaya nitrogen) seperti daun kacang-kacangan, gamal, lamtoro, atau turi dengan daun kering (kaya karbon) seperti daun jati, bambu, atau kelapa.
2. Proses Sederhana Tanpa Modal Besar
Metode tumpuk alami: susun daun secara berlapis di sudut kebun atau dekat tanaman. Basahi sedikit agar lembap. Diamkan 2–3 bulan hingga membusuk.
Metode kompos cepat: cincang daun, campur dengan sedikit kotoran ternak atau limbah dapur, siram dengan larutan gula/EM4, lalu tutup rapat. Aduk tiap 5–7 hari, siap dalam ±1 bulan.
3. Kombinasi dengan Bahan Lokal
Abu dapur → menambah unsur kalium untuk buah/bunga.
Air cucian beras → memperkaya mikroba baik.
Kulit pisang → sumber kalium tambahan untuk tanaman berbuah.
4. Manfaat Pupuk dari Daun
Memperbaiki struktur tanah (lebih gembur).
Menambah unsur hara alami (N, P, K dan mikronutrien).
Menahan air lebih lama di tanah.
Mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, jadi lebih hemat.
5. Cara Pakai
Pupuk padat: taburkan di sekitar akar lalu tutup tanah tipis.
Pupuk cair (fermentasi daun): siramkan ke tanah atau semprotkan ke daun untuk nutrisi cepat.
6. Tips Hemat & Berkelanjutan
Libatkan warga sekitar untuk mengumpulkan daun—sekalian membersihkan lingkungan.
Gunakan wadah bekas (drum, karung) untuk proses kompos.
Olah secara bertahap supaya pasokan pupuk organik selalu ada.
Pangkep 6 Agustus 2025
Herman Djide
Ketua Dewan Pimpinan Daerah Jurnalis Nasional Indonesia Cabang Kabupaten Pangkajene Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan