Instagram Dikabarkan Hapus Enkripsi DM Mulai Mei 2026, Privasi Pengguna Terancam?

5 hours ago 3

Radarsampit.com – Kabar terbaru datang dari jagat media sosial yang langsung menyita perhatian publik. Instagram dikabarkan akan menghapus fitur enkripsi end-to-end (E2EE) pada layanan Direct Message (DM) mulai 8 Mei 2026. Informasi ini sontak memicu kekhawatiran, terutama terkait keamanan data dan privasi percakapan pengguna di platform tersebut.

Dilansir dari lambedower.com, isu ini mencuat setelah adanya pembaruan pada halaman bantuan resmi Instagram, serta laporan dari sejumlah media internasional. Bahkan dalam uji coba terbatas di Australia, fitur enkripsi disebut sudah tidak lagi aktif untuk sebagian pengguna. Hal ini mengindikasikan bahwa kebijakan tersebut bukan sekadar wacana, melainkan sudah mulai diuji secara nyata.

Pihak Meta Platforms, sebagai perusahaan induk Instagram, menyebut alasan utama penghentian fitur ini adalah rendahnya tingkat penggunaan. Menurut pernyataan resmi, hanya sebagian kecil pengguna yang memanfaatkan fitur enkripsi dalam percakapan mereka. Karena itu, Meta memilih mengalihkan fokus ke layanan lain.

Sebagai alternatif, pengguna yang menginginkan tingkat keamanan lebih tinggi diarahkan untuk menggunakan WhatsApp. Platform tersebut memang sejak awal sudah menerapkan sistem enkripsi end-to-end secara otomatis di seluruh percakapan.

Namun langkah ini dinilai cukup mengejutkan. Pasalnya, kebijakan tersebut berbanding terbalik dengan visi lama CEO Meta, Mark Zuckerberg. Pada 2019, ia sempat mendorong integrasi sistem enkripsi di seluruh layanan Meta, termasuk Instagram, Facebook, dan WhatsApp. Bahkan rencana tersebut mulai dijalankan pada 2023. Kini, arah kebijakan justru berubah, dengan Instagram menjadi platform yang mundur dari sistem tersebut.

Di sisi lain, keputusan ini tidak lepas dari tekanan global. Dalam beberapa tahun terakhir, Meta mendapat sorotan dari berbagai lembaga penegak hukum dunia seperti FBI, Interpol, hingga National Crime Agency. Mereka menilai enkripsi menyulitkan proses pelacakan kejahatan digital, termasuk kasus eksploitasi anak dan terorisme.

Dengan dihapusnya enkripsi, ruang pengawasan terhadap aktivitas digital dinilai akan lebih terbuka. Namun hal ini juga menimbulkan dilema. Para pengamat privasi menilai langkah tersebut sebagai kemunduran dalam perlindungan data pengguna.

Selain itu, ada pula yang melihat kebijakan ini dari sisi bisnis. Tanpa enkripsi, Meta berpotensi memiliki akses lebih luas terhadap data percakapan. Informasi tersebut bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan akurasi iklan hingga pengembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan.

Kebijakan ini menandai perubahan besar bagi Instagram. Di tengah perkembangan teknologi, batas antara privasi, keamanan, dan kepentingan bisnis semakin tipis. Kini, pengguna dihadapkan pada pertanyaan penting: seberapa aman percakapan pribadi di era digital saat ini?

Halaman: 1 2

Read Entire Article
Desa Alam | | | |