
Ilustrasi. (Foto: Reuters)
JAKARTA — Iran merilis angka korban tewas resmi pertamanya pada Rabu (21/1/2026), beberapa hari setelah penindakan keras terhadap protes massal yang telah berlangsung selama beberapa pekan. Angka yang diumumkan jauh lebih rendah daripada yang dilaporkan oleh para aktivis di luar negeri, meski jumlahnya telah mencapai ribuan orang.
Televisi pemerintah menyiarkan pernyataan dari Kementerian Dalam Negeri dan Yayasan Urusan Martir dan Veteran, sebuah badan resmi yang menyediakan layanan kepada keluarga korban perang, yang menyatakan 3.117 orang tewas. Badan itu menambahkan bahwa 2.427 dari korban tewas dalam demonstrasi yang dimulai pada 28 Desember adalah warga sipil dan pasukan keamanan, namun tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai sisanya.
Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat (AS) mengatakan jumlah korban tewas pada Kamis (22/1/2026) pagi setidaknya 4.902, dengan banyak lagi yang dikhawatirkan tewas. Kelompok hak asasi manusia tersebut telah akurat selama bertahun-tahun dalam melaporkan demonstrasi dan kerusuhan di Iran, dengan mengandalkan jaringan aktivis di dalam negeri yang mengonfirmasi semua korban jiwa yang dilaporkan. Kelompok lain juga memberikan angka yang lebih tinggi daripada jumlah yang dilaporkan pemerintah Iran.














































