Krisis Air Bersih Mulai Meluas di Kotim, Empat Desa Ajukan Bantuan Distribusi Air

1 day ago 22

SAMPIT, Radarsampit.com – Musim kemarau mulai menunjukkan dampaknya di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Selain meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sejumlah desa kini mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah bergerak cepat dengan menyiapkan distribusi air ke wilayah yang terdampak.

Hingga pertengahan Juli 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim mencatat sedikitnya empat desa telah mengajukan permohonan bantuan air bersih. Desa-desa tersebut adalah Kuin Permai, Lempuyang, Regei Lestari, dan Jaya Karet.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menjelaskan kebutuhan air di setiap desa cukup besar. Dalam satu kali pendistribusian, volume air yang disalurkan berkisar antara 15 ribu hingga 25 ribu liter.

“Setiap distribusi membutuhkan sekitar empat sampai lima unit mobil tangki agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi,” ujarnya, Rabu (15/7).

Menurut Multazam, bantuan tidak hanya dilakukan sekali, tetapi akan disalurkan secara berkala selama musim kemarau masih berlangsung. Untuk mempercepat penanganan, BPBD telah berkoordinasi dengan Perumdam Tirta Mentaya sebagai penyedia pasokan air bersih.

Distribusi dijadwalkan mulai berjalan secara rutin dalam waktu dekat agar warga tetap memperoleh kebutuhan air untuk aktivitas sehari-hari.

BPBD juga mulai mengantisipasi kemungkinan bertambahnya wilayah terdampak apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang dari perkiraan. Kawasan Pulau Hanaut dan Seranau menjadi daerah yang masuk dalam pemantauan karena memiliki potensi mengalami krisis air bersih.

Berbeda dengan wilayah daratan, penyaluran air ke dua kawasan tersebut harus menggunakan jalur sungai. Pengalaman pada musim kemarau tahun 2015 dan 2019 menunjukkan distribusi air bahkan harus dilakukan menggunakan kapal berkapasitas besar.

“Sampai saat ini belum ada permohonan bantuan dari Pulau Hanaut maupun Seranau. Namun kami sudah menyiapkan langkah antisipasi apabila kebutuhan air meningkat,” kata Multazam.

Sementara itu, Wakil Bupati Kotim Irawati membenarkan pemerintah daerah telah menerima sejumlah surat permohonan bantuan dari desa-desa yang mulai mengalami kekurangan air bersih.

Ia menjelaskan, persoalan utama di wilayah selatan Kotim bukan hanya berkurangnya debit air, tetapi juga perubahan kualitas air sungai yang berubah menjadi payau sehingga tidak layak dikonsumsi masyarakat.

“Wilayah selatan sebenarnya masih memiliki sumber air, tetapi ketika kemarau air sungainya berubah menjadi asin sehingga tidak bisa dimanfaatkan sebagai air bersih,” jelasnya.

Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Kabupaten Kotim menggelar rapat koordinasi bersama BPBD, Penjabat Sekretaris Daerah, serta Perumdam Tirta Mentaya untuk memetakan wilayah terdampak sekaligus mempercepat distribusi bantuan.

Perumdam Tirta Mentaya menyatakan siap mendukung penyaluran air bersih ke desa-desa yang membutuhkan. Pemerintah juga mengimbau desa lain yang mulai mengalami kesulitan air agar segera mengajukan permohonan resmi sehingga armada tangki dapat segera diterjunkan.

Krisis serupa sebenarnya sudah terjadi pada awal 2026. Saat itu, Desa Bagendang Permai menerima bantuan sekitar 22 ribu liter air bersih yang didistribusikan menggunakan lima mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan 30 kepala keluarga.

Selain itu, Desa Regei Lestari juga sempat memperoleh bantuan sekitar 20 ribu liter air bersih bagi 77 kepala keluarga setelah wilayah tersebut dilanda kemarau selama dua pekan dan air sungainya berubah menjadi asin.

Di sisi lain, musim kemarau tahun ini juga diiringi meningkatnya jumlah titik panas di Kotim. BPBD mencatat sepanjang Juli 2026 telah terdeteksi sekitar 115 hotspot, menjadikannya angka tertinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya.

Secara kumulatif sejak Januari, jumlah titik panas telah melampaui 300 titik. Meski demikian, Multazam menegaskan tidak seluruh kebakaran dapat terpantau melalui satelit karena api di lahan gambut sering kali masih menyala di bawah permukaan tanah.

Oleh sebab itu, pemantauan lapangan tetap dilakukan secara intensif untuk memastikan setiap titik api dapat segera ditangani sebelum meluas menjadi kebakaran besar.

BPBD memperkirakan musim kemarau masih akan berlangsung sekitar empat hingga lima bulan ke depan. Masyarakat pun diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melapor kepada petugas apabila menemukan titik api maupun wilayah yang mulai mengalami kesulitan air bersih.

Read Entire Article
Desa Alam | | | |