Rupiah Diproyeksikan Melemah pada 17 Juli 2026, Berpotensi Bergerak di Kisaran Rp17.986-Rp18.030 per Dolar AS

8 hours ago 1

Radarsampit.com – Nilai tukar rupiah diperkirakan menghadapi tekanan pada perdagangan Jumat (17/7/2026). Setelah sehari sebelumnya berhasil menguat 82 poin dan ditutup di level Rp17.986 per dolar Amerika Serikat (AS), mata uang Garuda diproyeksikan kembali bergerak melemah seiring kombinasi sentimen global dan domestik.

“Untuk perdagangan (17/7) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.986-Rp 18.0300,” ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Jumat (17/7).

Menurut Ibrahim, salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan mata uang nasional berasal dari perkembangan ekonomi Amerika Serikat. Data terbaru menunjukkan Producer Price Index (PPI) AS pada Juni mengalami penurunan sebesar 0,3 persen, lebih rendah dari perkiraan pelaku pasar.

Kondisi tersebut memperkuat keyakinan bahwa tekanan inflasi di Negeri Paman Sam mulai mereda. Dampaknya, ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve dalam waktu dekat ikut menurun.

Meski demikian, sentimen positif tersebut belum mampu memberikan dorongan besar bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Pasalnya, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat dan memicu kenaikan harga minyak mentah dunia selama beberapa hari berturut-turut.

“Kondisi tersebut memicu kekhawatiran kenaikan biaya energi akan kembali mendorong inflasi dan membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter The Fed,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sejumlah pejabat Federal Reserve juga masih menegaskan komitmennya untuk menjaga inflasi tetap berada di target 2 persen. Karena itu, peluang penyesuaian suku bunga tetap terbuka apabila tekanan harga kembali meningkat dalam beberapa bulan mendatang.

Dari sisi domestik, pemerintah terus menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Fokus utama diarahkan pada pengendalian inflasi, khususnya dari kelompok harga pangan yang bergejolak serta kenaikan biaya produksi yang berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat.

Sementara itu, Bank Indonesia kembali menegaskan komitmennya menjaga kestabilan nilai tukar rupiah melalui sinergi kebijakan moneter, makroprudensial, serta penguatan sistem pembayaran nasional.

Kepercayaan investor terhadap kebijakan Bank Indonesia juga dinilai tetap terjaga setelah lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings mempertahankan penilaian positif terhadap otoritas moneter Indonesia.

Dengan masih kuatnya pengaruh faktor eksternal, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan ekonomi global, arah kebijakan Federal Reserve, serta dinamika geopolitik yang dapat memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Read Entire Article
Desa Alam | | | |