Radarsampit.com – Ada kalanya, orang harus belajar bahwa menjadi cerdas itu tidak selalu berbanding lurus dengan menjadi bijak. Kasus yang baru saja terjadi di Kabupaten Lamandau, tepatnya di Jalan Lintas Trans Kalimantan Km 18, adalah bukti sahihnya.
Seorang pria berinisial F baru saja “berprestasi” dengan cara yang sangat keliru. Bayangkan, dia membawa sabu seberat 2,6 kilogram—yang kalau dirupiahkan bisa mencapai Rp3,9 miliar—menggunakan mobil rental. Modusnya? Dia menyembunyikan barang haram itu di dalam ban serep.
Terdengar jenius? Tunggu dulu. Masalahnya, dia meletakkan ban serep itu bukan di bagasi, tapi di kursi penumpang belakang. Belum lagi, polisi yang memang sudah “berlangganan” mencium bau-bau mencurigakan, segera menyadari bahwa ban itu terasa jauh lebih berat daripada ban serep pada umumnya. Mungkin ban itu keberatan dosa, atau sekadar keberatan karena menyimpan masa depan ribuan orang yang terancam rusak.
Saat petugas membongkar ban tersebut, mereka menemukan 31 bungkus plastik klip berisi kristal putih. Ternyata, itu adalah paket “perjalanan” dari Kalimantan Barat menuju Sampit. Bahkan, dua paket sudah lebih dulu “terjual” di Kalbar hanya untuk membiayai perjalanan si tersangka. Sebuah dedikasi yang salah alamat, bukan?
Kapolres Lamandau, AKBP Joko Handono, dalam pemusnahan barang bukti pada Senin (29/6/2026) kemarin, menegaskan bahwa ini bukan perkara main-main. Total 3,1 kilogram sabu dari dua kasus berbeda dimusnahkan. Jika dihitung kasar, sekitar 26.263 jiwa berhasil “diselamatkan” dari ancaman narkotika. Angka yang fantastis, yang seharusnya membuat kita merenung: sebegitu gampangnyakah masa depan generasi kita ditukar dengan isi ban serep?
Kini, si F harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pasal berat dalam UU Narkotika sudah menanti, dengan ancaman hukuman maksimal mati atau 20 tahun penjara, serta denda Rp10 miliar. Sebuah harga yang sangat mahal untuk sebuah “bisnis” yang gagal di jalanan Lamandau.
Pengungkapan ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa jalur lintas Kalimantan bukan hanya sekadar jalur distribusi logistik, tapi juga arena perang melawan sindikat yang tak pernah kehabisan akal. Bagi para pelaku, silakan coba cara lain yang lebih “kreatif”. Namun, bagi aparat kepolisian, sepertinya mereka sudah punya insting yang cukup tajam untuk membedakan mana ban yang memang untuk serep, dan mana ban yang sedang membawa petaka.
Untuk F, selamat menikmati masa depan di balik jeruji besi. Setidaknya di sana, Anda tidak perlu lagi repot-repot menyembunyikan ban di kursi penumpang. (*)


















































