Radarsampit.com – Ada sebuah ungkapan klasik yang mengatakan bahwa cinta itu laksana api. Kalau dikelola dengan baik, dia bisa menghangatkan jiwa yang sepi. Tapi kalau dilepas tanpa kendali, dia bisa membakar apa saja yang dilewatinya.
Ungkapan ini tampaknya diterjemahkan secara terlalu harfiah, terlalu radikal, dan tentu saja terlalu tolol oleh seorang pria berinisial SM di Sampit, Kotawaringin Timur.
Hubungan asmara antara SM dan kekasihnya, seorang perempuan berusia 34 tahun berinisial TLD, yang seharusnya berisi drama-drama standar anak muda seperti bingung mau makan di mana atau saling bertukar kabar lewat WhatsApp, mendadak berubah menjadi sebuah film horor-kriminal berdurasi pendek.
Lokasinya di Jalan Metro TV, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Waktunya? Jam dua dini hari. Sebuah waktu di mana manusia normal seharusnya sedang mimpi indah, bukan malah sibuk bermain-main dengan cairan hidrokarbon.
Tragedi ini bermula dari perkara yang sebenarnya sangat klise dalam dunia per-bucin-an: perselingkuhan yang ketahuan.
Jadi, ceritanya si TLD ini memergoki SM sedang asyik mengirim pesan mesra kepada perempuan lain. Dan yang bikin makin runyam, perempuan lain itu statusnya adalah istri orang.
Ini sebuah kombinasi kesalahan yang sangat lengkap: sudah selingkuh, sasarannya adalah lini pertahanan domestik orang lain yang sudah mapan pula.
Namanya juga perempuan kalau melihat pasangannya bertingkah, TLD tentu langsung melancarkan interogasi. SM, dengan bakat defensif khas pria pada umumnya, memilih untuk tidak mengaku.
Maka terjadilah duel adu mulut yang hebat. Cekcok fajar itu begitu panas sampai-sampai TLD memutuskan keluar rumah sebentar untuk mencari angin segar demi mendinginkan kepala.
Sayangnya, ketika TLD kembali ke rumah, suasana tidak menjadi dingin. Yang terjadi justru sebaliknya: SM sudah menyiapkan rencana matang untuk eskalasi konflik yang jauh lebih membara.
SM datang tidak dengan membawa bunga mawar atau martabak sebagai tanda permintaan maaf, melainkan membawa satu jeriken bensin jenis Pertalite.
Di sinilah puncak kegilaan itu terjadi. Di bawah pengaruh cemburu buta yang bercampur dengan rasa gengsi karena ketahuan belangnya, SM menyiramkan Pertalite tersebut ke tubuh TLD. Dan agar terlihat seperti adegan dramatis di film-film laga Hollywood, SM juga menyiramkan sisa bensin itu ke tubuhnya sendiri.
“Kita terbakar bersama!” mungkin begitu ancam SM sambil memegang sebuah korek api gas, atau yang biasa disebut orang Kalimantan sebagai mancis.
Niat SM sebenarnya cuma ingin menggertak. Dia ingin mengancam TLD agar diam dan tidak memperpanjang urusan perselingkuhan itu lagi.
Masalahnya, SM ini tampaknya kurang mengerti pelajaran kimia dasar di sekolah dulu. Dia lupa bahwa uap Pertalite itu sifatnya sangat volatil dan peka terhadap percikan sekecil apa pun.
Begitu pemantik mancis itu diteklek dan mengeluarkan percikan api kecil, hukum fisika langsung bekerja tanpa pandang bulu. Api tidak peduli apakah SM cuma berniat mengancam atau tidak.
Breeesss! Kobaran api langsung menyambar uap bensin dan seketika mengubah kedua sejoli itu menjadi obor manusia.
Detik itu juga, romansa toxic langsung bubar jalan, digantikan oleh kepanikan yang luar biasa. Konsep “terbakar bersama demi cinta” yang tadinya terdengar gagah di kepala SM langsung runtuh begitu kulitnya mulai melepuh.
Keduanya lari tunggang-langgang menuju kamar mandi, berteriak-teriak meminta pertolongan warga sekitar dalam kondisi tubuh yang membara.
Akhir dari kisah cinta beraroma oktan tinggi ini bisa ditebak: berantakan sesempurna-sempurnanya.
TLD harus dilarikan ke RSUD dr. Murjani Sampit oleh para tetangga karena menderita luka bakar hingga 30 persen di tubuhnya. Sementara SM?
Setelah sempat ikut dirawat sebentar karena ikut kena batunya (baca: ikut gosong), dia langsung melarikan diri dan bersembunyi di rumah saudaranya di Palangka Raya.
Tapi, sepandai-pandainya SM ngumpet sambil mengolesi luka bakarnya dengan salep, jajaran Polres Kotim di bawah komando AKBP Resky Maulana Zulkarnain jauh lebih cekatan. SM akhirnya berhasil diringkus dan kini resmi mendekam di balik jeruji besi Mapolsek Ketapang.
Polisi pun menyita barang bukti yang sangat tidak estetis untuk sebuah kisah cinta: jaket hoodie warna krem yang sudah gosong, sebuah korek gas, dan jeriken bekas Pertalite.
SM kini dijerat dengan Pasal 466 ayat (2) KUHP tentang penganiayaan berat dengan ancaman hukuman lima tahun penjara. Sebuah akhir yang sangat setimpal bagi seorang pria yang ego dan amarahnya jauh lebih besar ketimbang kapasitas otaknya.
Hikmah dari kisah ini ada dua. Pertama, kalau pacarmu ketahuan selingkuh dan mulai membawa-bawa jeriken bensin, segera hubungi pemadam kebakaran atau polisi, bukan dukun cinta.
Kedua, bagi para pria, kalau memang tidak punya kemampuan untuk setia, minimal punyalah sedikit pengetahuan umum bahwa bensin itu mudah terbakar. Jangan sampai niatnya mau terlihat sangar di depan pacar, ujung-ujungnya malah jadi ayam panggang di kantor polisi.
Lima tahun di penjara dengan kulit melepuh itu lama, Mas SM. Dan di sana, saya jamin, tidak ada satu pun orang yang sudi kamu chat untuk diajak selingkuh. Tabik.
Halaman: 1 2


















































