SAMPIT, Radarsampit.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) semakin serius. Meski tahun 2026 baru memasuki pertengahan Juli, jumlah titik panas (hotspot) yang terpantau sudah mencapai 415 titik, nyaris menyamai total hotspot sepanjang tahun 2025 yang tercatat sebanyak 453 titik.
Kondisi tersebut menjadi sinyal meningkatnya potensi karhutla di tengah musim kemarau. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim pun memperkuat upaya pencegahan melalui patroli rutin, pemadaman dini, hingga sosialisasi kepada masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengungkapkan lonjakan hotspot paling signifikan terjadi selama Juli. Dalam periode 1 hingga 18 Juli 2026, satelit mendeteksi 190 titik panas, meningkat tajam dibandingkan Juni yang hanya mencatat 43 hotspot.
“Grafik hotspot mengalami kenaikan yang cukup drastis selama Juli. Karena itu, kami terus memperkuat patroli di lapangan, mempercepat penanganan kebakaran, serta mengajak seluruh elemen masyarakat ikut mencegah karhutla,” ujarnya, Minggu (19/7).
Data BPBD menunjukkan hingga 18 Juli 2026 telah terjadi 84 kejadian karhutla di berbagai wilayah Kotim. Dari jumlah tersebut, 76 kasus berhasil dipadamkan oleh tim gabungan, sedangkan beberapa titik lainnya masih dipantau guna memastikan api tidak kembali meluas.
Akumulasi luas lahan yang terdampak kebakaran telah mencapai 171,39 hektare. Kawasan wilayah tengah menjadi daerah yang mengalami dampak paling besar dengan luas lahan terbakar mencapai 97,60 hektare, atau sekitar 57 persen dari total area yang terdampak.
Kecamatan Baamang tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kejadian kebakaran terbanyak di kawasan tersebut, yakni 29 kasus, dengan luas lahan yang terbakar mencapai 43,69 hektare. Sementara itu, Kecamatan Kota Besi menjadi daerah dengan jumlah hotspot paling tinggi, yakni 92 titik.
Di wilayah selatan Kotim, luas lahan yang terbakar mencapai 72,33 hektare. Kecamatan Mentawa Baru Ketapang menjadi daerah dengan insiden karhutla terbanyak, yakni 32 kejadian. Adapun Pulau Hanaut hanya mencatat satu hotspot, namun kebakaran meluas hingga 20,75 hektare karena didominasi lahan gambut yang sangat mudah terbakar saat musim kemarau.
Berbeda dengan wilayah tengah dan selatan, kawasan utara Kotim masih relatif terkendali. Meski Antang Kalang mencatat 76 hotspot, hingga kini belum ditemukan kebakaran besar yang telah terverifikasi. Total luas lahan yang terbakar di wilayah utara tercatat sekitar 1,45 hektare.
Multazam kembali mengingatkan masyarakat, termasuk perusahaan perkebunan, agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Menurutnya, penerapan zero burning harus menjadi komitmen bersama, mengingat sebagian besar kawasan di Kotim merupakan lahan gambut yang sangat rentan terbakar dan sulit dipadamkan.
Ia menegaskan, langkah pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah api membesar. Selain menghindari kerusakan lingkungan, upaya tersebut juga dapat mencegah munculnya kabut asap yang mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat.

















































